Thu. Aug 22nd, 2019

Connecticity-International Conference on Creative Economy 2019 Event Yang Pertama Kalinya Diadakan Pemdaprov Jabar

Kabarbhayangkara.com/BANDUNG – Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil membuka forum kerja sama kota-kota kreatif se-Asia Tenggara bertajuk Connecticity-International Conference on Creative Economy 2019, di Kotel Grand Mercure, Kota Bandung, Kamis (2/5/19).

 

Event internasional yang digelar dua hari ini dihadiri 18 duta besar negara sahabat, lintas kementerian, delapan provinsi dan ratusan partisipan dari 27 Kabupaten/kota se-Jawa Barat.

 

“Hari ini saya membuka rencana kerja sama kota-kota kreatif se-Asia Tenggara, karena kreativitas itu lintas batas, tidak bisa dibatasi oleh administrasi,” ujar Gubernur.

 

Event yang pertama kalinya diadakan Pemerintah Daerah Provinsi (Pemdaprov) Jawa Barat rencananya akan rutin dilaksanakan setiap tahun dan masuk dalam kalender tahunan ekonomi kreatif Jawa Barat.

 

Emil, sapaan akrab Gubernur mengatakan, masyarakat di Asia Tenggara memiliki banyak kesamaan terutama senang akan keindahan alam. Maka dalam forum ini merumuskan strategi pengembangan ekonomi kreatif yang berbasis alam.

 

“Jadi kita punya kesamaan, orang Asia itu senang dengan keindahan alam dan kita mengatur strategi bagaimana bisa bekerja sama,” katanya.

 

Selain itu, kata dia, milenial dan generasi Z Jawa Barat sangat antusias terhadap pengembangan ekonomi kreatif. Beberapa produk unggulan ekonomi kreatif di Jabar antara lain furnitur, rotan dan terracotta ada di kawasan Ciayumajakuning. Sedangkan produk yang sifatnya desain dan teknologi ada di wilayah Bandung Raya dan bambu di Priangan Timur.

 

“Semuanya nanti dihubungkan oleh suatu network yaitu gedung creative center yang akan dibangun di tiap daerah,” ucap Emil.

 

Pemdaprov Jabar, lanjut Emil, tahun ini sedang mempersiapkan pembentukan Badan Ekonomi Kreatif Daerah (Bekrafda) pertama di Indonesia. Hal ini didasari telah terbitnya perda Provinsi Jawa Barat tentang ekonomi kreatif yang juga satu-satunya Indonesia.

 

“Jawaban terhadap perda itu adalah membentuk Bekraf seperti pusat tapi versi daerah. Mudah-mudahan ini mengakselerasi kebijakan-kebijakan anggaran yang ujungnya pada kesejahteraan ekonomi masyarakat,” terang Emil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *